text

hello there:) welcome and enjoy reading♥

Rabu, 11 Juli 2012

You Are The Apple Of My Eye


First love. 
Film ini berangkat dari dua kata sederhana tapi bermakna 'dalam' itu. You Are The Apple Of My Eye, ngingetin saya sama film Thailand yang juga tentang cinta pertama judulnya A Little Thing Called Love. Inti cerita yang mereka gambarkan sama, tapi waktu nonton buat saya feel-nya beda hehehe. 

Langsung aja ke sinopsisnya yaaah~
Cowok-cowok yang ada di gambar atas, mereka semua ceritanya sahabatan dan lucunya (atau parahnya mungkin) mereka semua naksir cewek yang sama. Bisa nebak ga yang mana? Yang paling tengah? Yup! That's right. Trus yang diterima yang mana doong? Hahaha, yang mana yaaaa? Nonton sendiri dooong~


Ko Ching-Teng awalnya ga tertarik sama Shen Jhia-yi. Dia cuma bisa terheran-heran aja sama tingkah temen-temennya yang aneh-aneh buat ngedeketin cewek terpinter di kelasnya itu. Sampe suatu hari,  Ko Ching-Teng kena hukuman yang bikin dia untuk terus diawasin sama cewek galak yang suka nusuk-nusuk punggungnya pake pulpen itu(Shen Jhia-yi maksudnya) selama di sekolah. Malapetaka? Hahaha jelas iya dong! Secara Ko Ching-Teng kan alergi bangeeet sama belajar, ujian, dan segala tetek bengeknya.  


Film ini sederhana untuk dipahami jalan ceritanya dan hmmm...paas banget rasanya. Nuansa first love-nya dapet banget dan saya yakin kalian yang ga begitu tertarik sama film dengan genre ini pun pasti suka. Akting pemain-pemainnya keren dan chemistry di antara mereka juga menghanyutkan. Saya suka detail-detail kecil yang digambarkan di film ini, misalnya aja waktu kamera nge-shoot telinga kirinya Shen Jhia-yi yang memerah waktu dikasih kado sama Ko Ching-Teng. Hahaha, nggak nyangka ada adegan kaya gitu, tapi ngeliatnya sumpah deh...so sweeeet banget asli hahahaha. 


You Are The Apple Of My Eye sebenernya adalah pengalaman pribadi sang sutradara Gidden Ko dan itu yang bikin saya excited banget untuk terus nyari kaset film ini sampe akhirnya nemu di toko kaset antah berantah di hari terakhir saya di Bandung kemaren hahaha. Yaah, lucu aja ngebayangin film se-so sweet ini sebenernya terjadi dalam kehidupan nyata seseorang. 
Ada satu quote yang saya suka dari film ini. Banyak sih sebenernya quote-quote bagus yang lain, tapi yang sesuai sama temanya yaitu first love, menurut saya adalah yang ini:
Aku salah. 
Ternyata ketika kamu sangat menyukai seorang wanita, saat ada orang lain yang menyayangi dan mencintainya sepenuh hati, kamu bisa dengan tulus berharap agar dia bahagia. 



So, this movie is highly recommended bangeeet(halaaah haha lebaayy) buat kamu yang belom pernah nonton~
Have a wonderful holiday all! Bye bye

picture source: google 

Sabtu, 02 Juni 2012

I Won't Give Up


'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up


I Won't Give Up - Jason Mraz

Selasa, 15 Mei 2012

The message I want to bring across is to give everything you have into the present—and that’s what I learned the most from the training experience with Yunho. Don’t worry about the uncertainties of tomorrow, or the mistakes of yesterday.


-Claudia Muller- (via soompi)

Rabu, 25 April 2012

Fate and Sandstorm

“Sometimes fate is like a small sandstorm that keeps changing directions. You change direction but the sandstorm chases you. You turn again, but the storm adjusts. Over and over you play this out, like some ominous dance with death just before dawn. Why? Because this storm isn't something that blew in from far away, something that has nothing to do with you. This storm is you. Something inside of you. So all you can do is give in to it, step right inside the storm, closing your eyes and plugging up your ears so the sand doesn't get in, and walk through it, step by step. There's no sun there, no moon, no direction, no sense of time. Just fine white sand swirling up into the sky like pulverized bones. That's the kind of sandstorm you need to imagine.

An you really will have to make it through that violent, metaphysical, symbolic storm. No matter how metaphysical or symbolic it might be, make no mistake about it: it will cut through flesh like a thousand razor blades. People will bleed there, and you will bleed too. Hot, red blood. You'll catch that blood in your hands, your own blood and the blood of others.

And once the storm is over you won't remember how you made it through, how you managed to survive. You won't even be sure, in fact, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm you won't be the same person who walked in. That's what this storm's all about.”


                                                                      ✿✿✿

Saya gatau mo ngetik apa, tapi kangen ngeblog jadi ya apa aja deh yang bisa dijadiin postingan, saya post hehe. Quote di atas itu quote favorit saya. Quote itu ada di novel Kafka on The Shore-nya Haruki Murakami. Kalo mungkin pd pengen tau yang lain, bisa cek di sini

Sabtu, 24 Maret 2012

You're

You’ve been hiding behind the cloud and crying
Now confidently straighten up and face the world
You can hear the roar of the crowds

When our warm dreams are
getting farther away
blackout darkness
Then there was only a path
going down that remained
Life had lost its basics and worth
Right then, you held our hands tightly
You helped us find our smiles again
You helped us find strength
to jump higher than anyone else

Kamis, 23 Februari 2012

It's okay not to be okay.

Rabu, 11 Januari 2012

The Art Of Getting By



Pernah ngerasa ga, saat dimana kita lagi galau dan tiba-tiba nonton sebuah film atau dengerin lagu atau ketemu quote yang kerasa sesuai banget sama apa yang lagi kita rasain?
Nonton film yang satu ini saya ngerasaain banget saat-sa
at yang seperti itu.

The Art Of Getting By—judulnya.


Pertama-tama saya ambil film ini adalah karena seorang Freddie Highmore.
Tau siapa dia? Kalo tau film August Rush, pasti tau banget deh siapa dia. Saya suka banget film itu dan juga Freddie Highmore disitu. Berhubung saya ga tau menau film mana lagi yang ada dianya, begitu ketemu The Art Of Getting By yang nampangin Freddie Highmore saya ga pikir panjang buat beli.
Film ini hmmm… eh oya di covernya sih ditulis kalo film ini diproduksi oleh studio film yang sama, sama Juno dan 500 Days Of Summer. Saya punya dua-duanya(bukan mo pamer atau promosi loh ya hehe) dan walaupun emang keliatannya dua film itu meaningful, entah kenapa saya ga begitu enjoy nontonnya—ga seenjoy saya nonton The Art Of Getting By. Buat saya Juno terlalu "keterlaluan" (hah?) dan aneh aja gitu liatnya. Kalo 500 Days Of Summer, duh… saya bingung nontonnya dan endingnya bukan tipe-tipe ending yang enak di hati, satu-satunya yang bikin saya bertahan nonton film itu adalah, Joseph Gordon-Levitt sama Zoey Deschanel-nya haha. Mereka perfect.
Well, kembali ke The Art Of Getting By, film ini sederhana banget kalo menurut saya. Latar ceritanya tentang seorang anak kelas tiga SMA(just like me) yang galau abis-abisan(almost just like me, hehe) dan kegalauannya itu bersumber dari kepercayaannya tentang pepatah yang bilang gini ni: you are born alone, die alone, and everything else is an illusion. Jadi si George ini, dia percaya bahwa apapun yang dia kerjakan di dunia ini semuanya itu adalah ilusi atau omong kosong—kasarnya. Dan itu imbasnya macem-macem, dari mulai dia ga peduli sama semua tugas sekolahnya, ga peduli walaupun ga ada yang mau bertemen sama dia karena keanehan dan kerumitan jalan pikirannya, dan—yang terparah—dia ga peduli sama bakat hebat yang sebenarnya ada di dalam dirinya. George bahkan hampir aja ga bisa lulus dari sekolah karena kegalauannya itu. Sampai akhirnya dia ketemu seorang, cewek.

Namanya Sally(Emma Roberts).

here is our gorgeous Sally~

Saya suka karakternya Sally disini. Dan salah satu yang menarik dari film ini adalah gimana si Sally yang easy going nanti bisa bertemen baik sama George yang keliatannya rempong abis.
–end of spoiler-

Buat saya, film ini rasanya pas—banget. Ga lebay, ga vulgar, ga terlalu rumit, dan sweet. Freddie Highmore-nya uda tambah tinggi—banget—dan tambah keren(pastinya). Beda sama si kecil Freddie yang di August Rush. Oya plus Emma Roberts yang cantik dan menawan. Kombinasi mereka berdua enak banget diliatnya. Endingnya oke dan keseluruhan jalan ceritanya nggak akan deh bikin kita pengen neken tombol buat cepetin DVD hahaha.
Pokoknya film ini, high recommended! Banget! Khususnya buat anak kelas tiga SMA yang lagi—masih—galau-galaunya(heheee:D)
Pelajaran yang bisa diambil dari film ini:
Sebenernya sesuatu yang kita yakini yang keliatannya itu rumit—dan yang bikin kita galau abis-abisan ga karuan—mungkin adalah sesuatu yang sebenernya sederhana aja. Kita cuma butuh sudut pandang lain untuk ngeliatnya. Untuk melepas kegalauan menurut film ini adalah kita harus bisa menerima bahwa apa yang kita yakini ga semuanya bakal membuat cerita hidup kita berjalan dengan baik, bahwa mungkin mencoba untuk memperbaiki keyakinan itu bisa jadi alternatif yang pas. Dengerin pendapat orang yang tau banget siapa kita, itu langkah awal yang baik.
Anak kelas tiga SMA mungkin memang yang pikirannya dan pelajarannya paling ribet dari anak SMA di tingkat-tingkat bawahnya. Jelas, karena ini—masa-masa kelas tiga SMA ini—adalah titik di mana seorang remaja SMA harus mikirin: abis ini saya mau jadi apa? saya mau lakuin apa? Dan pertanyaan itu bukan pertanyaan yang lima detik bisa terjawab(kaya kata Pa Ismuji kalo ada soal integral atau trigono yang gampang), bukan banget. Kita harus bener-bener yakin sama apa yang kita pilih.
Saya, gitu. Saya ngerasa saya ribet banget dan galaunya lebay banget hehe. Tapi semuanya harus berakhir karena memang semuanya akan berakhir. Ini sudah yang paling terakhir. Paling terakhir pake seragam putih abu-abu. Terakhir belajar dengan jadwal pelajaran yang padet dan teratur. Terakhir dimarahin, diceramahin, diingetin, dan disemangatin sama guru-guru yang bener-bener care dan peduli.

Jadi?
Yah, semangat! Apapun tujuannya kita pasti bisa—kita semua—InsyaAllah pasti bisa:)