The message I want to bring across is to give everything you have into the present—and that’s what I learned the most from the training experience with Yunho. Don’t worry about the uncertainties of tomorrow, or the mistakes of yesterday.
-Claudia Muller- (via soompi)
text
Selasa, 15 Mei 2012
Rabu, 25 April 2012
Fate and Sandstorm
“Sometimes fate is like a small sandstorm that keeps changing directions. You change direction but the sandstorm chases you. You turn again, but the storm adjusts. Over and over you play this out, like some ominous dance with death just before dawn. Why? Because this storm isn't something that blew in from far away, something that has nothing to do with you. This storm is you. Something inside of you. So all you can do is give in to it, step right inside the storm, closing your eyes and plugging up your ears so the sand doesn't get in, and walk through it, step by step. There's no sun there, no moon, no direction, no sense of time. Just fine white sand swirling up into the sky like pulverized bones. That's the kind of sandstorm you need to imagine.
An you really will have to make it through that violent, metaphysical, symbolic storm. No matter how metaphysical or symbolic it might be, make no mistake about it: it will cut through flesh like a thousand razor blades. People will bleed there, and you will bleed too. Hot, red blood. You'll catch that blood in your hands, your own blood and the blood of others.
And once the storm is over you won't remember how you made it through, how you managed to survive. You won't even be sure, in fact, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm you won't be the same person who walked in. That's what this storm's all about.”
✿✿✿
✿✿✿
Sabtu, 24 Maret 2012
You're
You’ve been hiding behind the cloud and crying
Now confidently straighten up and face the world
You can hear the roar of the crowds
When our warm dreams are
getting farther away
blackout darkness
Then there was only a path
going down that remained
Life had lost its basics and worth
Right then, you held our hands tightly
You helped us find our smiles again
You helped us find strength
to jump higher than anyone else
Kamis, 23 Februari 2012
Rabu, 11 Januari 2012
The Art Of Getting By
Nonton film yang satu ini saya ngerasaain banget saat-saat yang seperti itu.
The Art Of Getting By—judulnya.

Pertama-tama saya ambil film ini adalah karena seorang Freddie Highmore.
Tau siapa dia? Kalo tau film August Rush, pasti tau banget deh siapa dia. Saya suka banget film itu dan juga Freddie Highmore disitu. Berhubung saya ga tau menau film mana lagi yang ada dianya, begitu ketemu The Art Of Getting By yang nampangin Freddie Highmore saya ga pikir panjang buat beli.
Film ini hmmm… eh oya di covernya sih ditulis kalo film ini diproduksi oleh studio film yang sama, sama Juno dan 500 Days Of Summer. Saya punya dua-duanya(bukan mo pamer atau promosi loh ya hehe) dan walaupun emang keliatannya dua film itu meaningful, entah kenapa saya ga begitu enjoy nontonnya—ga seenjoy saya nonton The Art Of Getting By. Buat saya Juno terlalu "keterlaluan" (hah?) dan aneh aja gitu liatnya. Kalo 500 Days Of Summer, duh… saya bingung nontonnya dan endingnya bukan tipe-tipe ending yang enak di hati, satu-satunya yang bikin saya bertahan nonton film itu adalah, Joseph Gordon-Levitt sama Zoey Deschanel-nya haha. Mereka perfect.
Well, kembali ke The Art Of Getting By, film ini sederhana banget kalo menurut saya. Latar ceritanya tentang seorang anak kelas tiga SMA(just like me) yang galau abis-abisan(almost just like me, hehe) dan kegalauannya itu bersumber dari kepercayaannya tentang pepatah yang bilang gini ni: you are born alone, die alone, and everything else is an illusion. Jadi si George ini, dia percaya bahwa apapun yang dia kerjakan di dunia ini semuanya itu adalah ilusi atau omong kosong—kasarnya. Dan itu imbasnya macem-macem, dari mulai dia ga peduli sama semua tugas sekolahnya, ga peduli walaupun ga ada yang mau bertemen sama dia karena keanehan dan kerumitan jalan pikirannya, dan—yang terparah—dia ga peduli sama bakat hebat yang sebenarnya ada di dalam dirinya. George bahkan hampir aja ga bisa lulus dari sekolah karena kegalauannya itu. Sampai akhirnya dia ketemu seorang, cewek.
Namanya Sally(Emma Roberts).

here is our gorgeous Sally~
Saya suka karakternya Sally disini. Dan salah satu yang menarik dari film ini adalah gimana si Sally yang easy going nanti bisa bertemen baik sama George yang keliatannya rempong abis.
–end of spoiler-
Buat saya, film ini rasanya pas—banget. Ga lebay, ga vulgar, ga terlalu rumit, dan sweet. Freddie Highmore-nya uda tambah tinggi—banget—dan tambah keren(pastinya). Beda sama si kecil Freddie yang di August Rush. Oya plus Emma Roberts yang cantik dan menawan. Kombinasi mereka berdua enak banget diliatnya. Endingnya oke dan keseluruhan jalan ceritanya nggak akan deh bikin kita pengen neken tombol buat cepetin DVD hahaha.
Pokoknya film ini, high recommended! Banget! Khususnya buat anak kelas tiga SMA yang lagi—masih—galau-galaunya(heheee:D)
Pelajaran yang bisa diambil dari film ini:
Sebenernya sesuatu yang kita yakini yang keliatannya itu rumit—dan yang bikin kita galau abis-abisan ga karuan—mungkin adalah sesuatu yang sebenernya sederhana aja. Kita cuma butuh sudut pandang lain untuk ngeliatnya. Untuk melepas kegalauan menurut film ini adalah kita harus bisa menerima bahwa apa yang kita yakini ga semuanya bakal membuat cerita hidup kita berjalan dengan baik, bahwa mungkin mencoba untuk memperbaiki keyakinan itu bisa jadi alternatif yang pas. Dengerin pendapat orang yang tau banget siapa kita, itu langkah awal yang baik.
Anak kelas tiga SMA mungkin memang yang pikirannya dan pelajarannya paling ribet dari anak SMA di tingkat-tingkat bawahnya. Jelas, karena ini—masa-masa kelas tiga SMA ini—adalah titik di mana seorang remaja SMA harus mikirin: abis ini saya mau jadi apa? saya mau lakuin apa? Dan pertanyaan itu bukan pertanyaan yang lima detik bisa terjawab(kaya kata Pa Ismuji kalo ada soal integral atau trigono yang gampang), bukan banget. Kita harus bener-bener yakin sama apa yang kita pilih.
Saya, gitu. Saya ngerasa saya ribet banget dan galaunya lebay banget hehe. Tapi semuanya harus berakhir karena memang semuanya akan berakhir. Ini sudah yang paling terakhir. Paling terakhir pake seragam putih abu-abu. Terakhir belajar dengan jadwal pelajaran yang padet dan teratur. Terakhir dimarahin, diceramahin, diingetin, dan disemangatin sama guru-guru yang bener-bener care dan peduli.
Pokoknya film ini, high recommended! Banget! Khususnya buat anak kelas tiga SMA yang lagi—masih—galau-galaunya(heheee:D)
Pelajaran yang bisa diambil dari film ini:
Sebenernya sesuatu yang kita yakini yang keliatannya itu rumit—dan yang bikin kita galau abis-abisan ga karuan—mungkin adalah sesuatu yang sebenernya sederhana aja. Kita cuma butuh sudut pandang lain untuk ngeliatnya. Untuk melepas kegalauan menurut film ini adalah kita harus bisa menerima bahwa apa yang kita yakini ga semuanya bakal membuat cerita hidup kita berjalan dengan baik, bahwa mungkin mencoba untuk memperbaiki keyakinan itu bisa jadi alternatif yang pas. Dengerin pendapat orang yang tau banget siapa kita, itu langkah awal yang baik.
Anak kelas tiga SMA mungkin memang yang pikirannya dan pelajarannya paling ribet dari anak SMA di tingkat-tingkat bawahnya. Jelas, karena ini—masa-masa kelas tiga SMA ini—adalah titik di mana seorang remaja SMA harus mikirin: abis ini saya mau jadi apa? saya mau lakuin apa? Dan pertanyaan itu bukan pertanyaan yang lima detik bisa terjawab(kaya kata Pa Ismuji kalo ada soal integral atau trigono yang gampang), bukan banget. Kita harus bener-bener yakin sama apa yang kita pilih.
Saya, gitu. Saya ngerasa saya ribet banget dan galaunya lebay banget hehe. Tapi semuanya harus berakhir karena memang semuanya akan berakhir. Ini sudah yang paling terakhir. Paling terakhir pake seragam putih abu-abu. Terakhir belajar dengan jadwal pelajaran yang padet dan teratur. Terakhir dimarahin, diceramahin, diingetin, dan disemangatin sama guru-guru yang bener-bener care dan peduli.
Jadi?
Yah, semangat! Apapun tujuannya kita pasti bisa—kita semua—InsyaAllah pasti bisa:)
Yah, semangat! Apapun tujuannya kita pasti bisa—kita semua—InsyaAllah pasti bisa:)
Selasa, 20 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)

